Jumat, 08 Mei 2015

Tetaplah Semangat



Biarkan Masa Depan Datang Sendiri
‘’Telah pasti datang ketetapan Allah, maka janganlah kamu meminta agar disegerahkan (datang)nya’’. (QS. An-Nahl : 1)

Jangan pernah mendahulukan sesuatu yang belum terjadi! Apakah Anda mau mengeluarkan kandungan sebelum waktunya dilahirkan, atau memetik buah-buahan sebelum masak? Hari esok adalah sesuatu yang belum nyata dan tidak dapat diraba, sebelum terwujud, dan tidak memiliki rasa dan warna. Jika demikian, mengapa harus menyibukan diri dengan hari esok, mencemaskan kesialan-kesialan yang mungkin akan terjadi padanya, memikirkan kejadian-kejadian yang menimpanya, dan meramalkan bencana-bencana yang bakal ada didalamnya? Bukankah kita juga tidak tahu apakah kita akan bertemu dengannya atau tidak, dan apakah hari esok kita itu akan terwujud kesenangan atau kesidihan?
Yang jelas, hari esok masih ada dalam alam gaib dan belum turun ke bumi. Maka, tidak sepantasnya kita menyeberangi sebuah jembatan sebelum sampai diatasnya. Sebab, siapa yang tahu bahwa kita akan sampai atau tidak pada jembatan itu. Bisa jadi kita akan terhenti sebelum sampai ke jembatan itu, atau mungkin pula jembatan itu akan hanyut terbawa arus terlebih dahulu sebelum kita sampai di atasnya. Dan bisa adi pula, kita akan sampai pada jembatan itu dan kemudian menyeberanginya.
Dalam syariat, memberikan kesempatan kepada pikiran untuk memikirkan masa depan dan membuka-buka alam gaib, dan kemudian ternhanyut dalam kecemasan-kecemasan yang baru di duga darinya, adalah sesuatu yang tidak dibenarkan. Pasalnya, hal itu termasuk thûlul amal (angan-angan yang terlalu jauh). Secara nalar, tindakan itu pun tidak masuk akal, karena sama halnya dengan berusaha perang melawan bayang-bayang. Namun ironis, kebanyakan manusia di dunia ini justru banyak termakan oleh ramalan-ramalan tentang kelaparan, kemiskinan, wabah penyakit dan krisis ekonomi yang kabarnya akan menimpa mereka. Padahal, semua itu hanyalah bagian dari kurikulum yang di ajarkan di ‘’sekolah-sekolah setan’’.
‘’Setan menjajikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia’’. (QS. Al-Baqarah : 268)
Mereka yang menangis sedih menatap masa depan adalah yang menyangka diri mereka akan hidup kelaparan, menderita sakit selama setahun, dan memperkirakan umur dunia ini tinggal seratus tahun lagi. Padahal, orang yang sadar bahwa usia hidupnya berada di ‘genggaman  yang lain’ tentu tidak akan menggadaikannya untuk sesuatu yang tidak ada. Dan orang yang tidak tahu kapan akan mati, salah besar bila justru menyibukan diri dengan sesuatu yang belum ada dan tak berwujud.
Biarkan hari esok itu datang dengan sendirinya. Jangan pernah menanyakan kabar beritanya, dan jangan pula pernah menanti serangan petakanya. Sebab, hari ini Anda sudah sangat sibuk.
Jika Anda heran, maka lebih mengherankan lagi orang-orang yang berani menembus kesedihan suatu masa yang belum tentu matahari terbit di dalamnya dengan bersedih pada hari ini. Oleh karen itu, hindarilah angan-angan yang berlebihan.




                                                                                                                                                            





HARI INI MILIK ANDA
Jika kamu berada di pagi hari, janganlah menunggu sore tiba. Hari ini adalah yang akan anda jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan keburukan, dan juga esok hari yang belum tenu datang. Hari ini yang saat ini mataharinya menyinari  Anda, dan siangnya menyapa  Anda.
Pada hari ini pula, sebaiknya Anda mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras. Dan pada hari inilah, Anda harus bertekad mengembankan kualitas sholat yang paling khusyu’, bacaan Al Quran yang sarat taddabur, dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, kerelaan dengan semua yang Allah berikan, perhatian dengan daerah sekitar, perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga, serta perbuatan baik terhadap sesama.
Pada hari dimana Anda hidup saat inilah sebaiknya Anda membagi waktu dengan bijak. Jadikanlah setiap menitnya laksana ribuan tahun dan setiap detiknya laksana ratusan bulan.Tanamlah kebaikan sebanyak-banyaknya pada hari itu. Dan, persembahkanlah sesuatu yang paling indah untuk hari itu. Ber-istighfar-lah atas semua dosa, ingatlah selau kepada-Nya, bersiap-siaplah untuk sebuah perjalanan menuju alam keabadian, dan nikmatilah hari ini dengan segala kesenangan dan kebahagiaan! Terimalah rezeki, isteri, suami, anak-anak, tugas-tugas, rumah, ilmu, dan jabatan Anda setiap hari dalam keridhaan.
‘’Maka berpegangteguhlah dengan apa yang telah Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang bersyukur.’’ (QS. Al-A’raf:144)
Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan, kedengkian dan kebencian.
Jangan lupa, hendaklah  Anda goreskan pada dinding hati Anda satu kalimat (bila perlu Anda tulis pula di atas meja kerja Anda): Harimu adalah adalah hari ini. Yakni, bila hari ini Anda dapat memakan nasi hangat yang harum baunya, maka apakah nasi basi yang telah Anda makan kemarin atau nasi hangat esok hari (yang belum tentu ada) itu akan merugikan Anda?
Jika Anda dapat minum air jernih dan segar hari ini, maka mengapa Anda harus bersedih atas air asin yang kemarin Anda minum, menghawatirkan air hambar dan air  hangat esok hari yang belum tentu terjadi?
Jika Anda percaya pada diri sendiri, serta memiliki semangat dan tekat yang kuat, Anda akan dapat menundukan diri untuk berpegang pada prinsip: aku hanya akan hidup hari ini. Prinsip inilah yang akan menyibukan diri Anda setiap detik untuk selalu memperbaiki keadaan, mengembangkan semua potensi, dan mensucikan setiap amalan.
Dan itu, akan membuat Anda berkata  dalam hati, ‘’Hanya hari ini aku berkesempatan mengatakan yang baik-baik saja. Tak berucap kotor dan jorok yang menjijikn, tidak akan pernah mencela, mengahardik dan juga membicarakan kejelekan orang lain. Hanya hari ini aku berkempatan menertibkan rumah dan kantor agar tidak semwrawut dan berantakan. Dan karna hanya ini saja aku akan hidup, maka aku akan memperhatikan kesehatan tubuhku, kerapian penampilanku, kebaikan tutur kata dan tindak-tandukku.’’
Karena hanya akan hidup hari ini, maka aku akan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Rabb, mengerjakan shalat sesempurna mungkin, membekali diri dengan shalat-shalat sunah nafilah, berpegang teguh pada Al Qur’an, mengkaji dan mencatat segala yang bermanfaat.
Aku hanya akan hidup hari ini, karenanya aku akan menanam dalam hatiku semua nilai keutamaan dan mencabut darinya pohon-pohon kejahatan berikut ranting-rantingnya yang berduri, baik sifat takabur, ujub,riya, dan buruk sangka.
Hanya hari ini aku akan menghirup udara kehidupan, maka aku akan berbuat baik kepada orang lain dan mengulurkan tangan kepada siapapun. Aku akan menjenguk mereka yang sakit, mengantarkan  jenazah, menunjukan jalan yang benar bagi yang sesat, memberi makan orang kelaparan, menolong orang yang sedang kesulitan, membantu orang yang dizalimi, meringankan penderitaan orang yang lemah, mengasihi mereka yang menderita, menghormati orang-orang alim, menyayangi anak kecil, dan berbakti kepada orang tua.
Aku hanya akan hidup hari ini, maka Aku akan mengucapkan, ‘’Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. Aku tidak akan menangisi kepergianmu, dan kamu tidak akan pernah melihat aku termenung sedetik pun utuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi.’’
‘’Wahai masa depan, engkau masih dalam kegaiban. Maka Aku tidak akan pernah main dengan khayalan dan menjual diri hanya untuk sebuah dugaan. Dan Aku pun tak bakal meburu sesuatu yang belum tentu ada, karena esok hari mungkin tak ada sesuatu. Esok hari adalah sesuatu yang belum diciptakan dan tidak ada satu pun dariya yang dapat di sebutkan.’’


‘’Hari  ini  milik  Anda,  ‘’adalah  ungkapan  paling  indah  dalam  ‘’kamus kebahagiaan’’.  Kamus  bagi  mereka  yang  menginginkan  kehidupan paling  indah  dan  menyenangkan.




me and friends BSI Cimone tangerang